Tampilkan postingan dengan label Hot News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hot News. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 November 2008

Tawuran UMI, 1 Mahasiswa Teknik Dikabarkan Tewas

Makassar, CakrawalaIDE - Informasi yang dihimpun di tempat kejadian perkara (TKP), salah satu dari tiga mahasiswa FT yang menjadi korban yakni Fajrin, mahasiswa Fakultas Teknik Elektro dikabarkan meninggal setelah terkena sabetan parang pada bagian leher belakangnya.

Kabar meninggalnya Fajrin juga masih simpang siur karena staf kemahasiswaan kampus UMI yang tidak ingin namanya disebutkan mengatakan jika Fajrin telah tewas kehabisan darah.

Sementara itu, beberapa rekan korban yang berada di RS Ibnu Sina mengatakan jika korban masih berada di ruang unit gawat darurat (UGD).

Fajrin yang menggunakan badik sedang berhadap-hadapan dengan beberapa mahasiswa Mapala UMI di tengah Jalan Urip Sumoharjo, tepat di depan kampusnya.

Karena kalah jumlah, akhirnya leher belakang Fajrin kena tebas. Fajrin yang terjatuh masih sempat berdiri dan melawan mahasiswa yang mencoba mendekatinya.

Darah yang terus bercucuran membuatnya roboh dan harus dibawa ke Rumah Sakit (RS) Ibnu Sina untuk mendapatkan penanganan dokter.

Dua rekan dari Fajrin yang belum diketahui identitasnya mengalami luka-luka pada sekujur tubuhnya.

Satu diantara keduanya mengalami luka pada kepala bagian depan karena hantaman benda keras, perut dan pinggangnya tertancap anak panah sehingga melarikan diri ke RS Ibnu Sina yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari kampusnya.

Sementara yang satunya lagi hanya mengalami luka pada perut dan punggungnya. Mahasiswa FT ini juga terkena anak panah yang membuatnya harus berlari ke RS Ibnu Sina.
Selengkapnya......

Tawuran Mahasiswa UMI Kembali Terjadi

Makassar, CakrawalaIDE - Tawuran antarmahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali pecah, di Makassar, Kamis, sekitar pukul 16.00 Wita.

Tawuran yang melibatkan antara mahasiswa Fakultas Teknik (FT) dengan organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) UMI ini mengakibatkan luka-luka.

Meskipun hujan terus mengguyur, namun aksi tawuran antara dua kelompok ini tetap berlangsung.

Perseteruan yang beredar, tawuran ini dipicu karena akumulasi dari perseteruan lama, yakni salah satu mahasiswa FT pernah ditikam di bagian pantatnya.

Aparat polisi dari Polresta Makassar Timur dan Polsekta Panakkukang langsung menyisir kampus dipimpin Kapolres, AKBP Kamaruddin.

Di dalam kampus, polisi menyita puluhan parang, badik (senjata tajam khas Sulsel), panah dan ketapel, serta senjata rakitan.
Selengkapnya......

Rabu, 05 November 2008

Ramli Rizal Ingin Ada Perubahan

Lipsus Muktamar KAMMI VI

Makassar, CakrawalaIDE - Ketua Umum Bangkit Indonesia, Rizal Ramli, menginginkan perubahan di Indonesia setelah Pemilihan Umum (pemilu) 2009 mendatang. Rizal Ramli disebut-sebut akan meramaikan bursa calon presiden Hal ini ia ungkapkan saat memberikan materi stadium general dalam Muktamar Nasional VI KAMMI, di LAN Antang, Rabu (5/11).

"Kami ingin ada perubahan di Indonesia setelah Pilpres 2009 mendatang," ujarnya kepada ratusan peserta muktamar. Dalam kesempatan ini Rizal Ramli banyak memaparkan tentang keberhasilannya selama menjabat Kepala Bulog RI.

Selain itu Rizal juga banyak menyampaikan visi misinya untuk maju di Pilpres 2009. Beberapa bidang yang ia tekankan dalam kesempatan ini, di antaranya kesejahteraan rakyat dan pendidikan.

Sebelumnya Anis Matta Matta juga menyampaikan materi pada pada munas ini. Sekjen PKS ini disebut-sebut akan meramaikan bursa Pilpres 2009.
Selengkapnya......

Muhit Sudah Lama Galang Dukungan

Lipsus Muktamar KAMMI VI

Makassar, CakrawalaIDE - Aura kecerdasan tampak dari wajah lelaki berdarah Batak ini. Muhit Harahap, salah satu kandidat kuat untuk memimpin KAMMI. Lelaki kelahiran Padangsidempuan, 15 April 1983 ini optimis menjadi Ketua KAMMI.

"Saya dan tim optimis bisa masuk lima besar dari dukungan seluruh KAMMI Daerah se-Indonesia".

Muhit merupakan Ketua KAMMI Daerah (Kamda) Semarang 2006-2008. Ia optimis karena sudah lama menggalang dukungan dari kamda di seluruh wilayah territorial I - IX.

"Galangan dukungan itu kami lakukan baik itu melalui blog, e-mail official, milist, dan sebagainya," ungkap anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Lanjut Muhit, seandainya ia terpilih sebagai Ketua KAMMI ia akan membawa KAMMI menjadi sebuah organisasi gerakan kemahasiswaan yang benar-benar memiliki identitas organisasi gerakan mahasiswa yang ekstra parlementer.

"Janganlah KAMMI terlalu sering ketemu dengan pejabat-pejabat negeri ini, presiden, wapres, dan sebagainya. Yang paling penting adalah KAMMI harus berkontribusi untuk masyarakat bukan hanya untuk kader KAMMI," ujarnya.
Selengkapnya......

KAMMI Sulsel Calonkan Dua Kandidat

Lipsus Muktamar KAMMI VI

Makassar, CakrawalaIDE - KAMMI Sulsel memutuskan mencalonkan dua orang kandidat yakni Anwar dan Lalu Fahrrul Rozi. Sebelumnya Ketua KAMMI Sulsel, Rusdi Layong, pada jumpa pers-nya di Warkop Dg Anas, Minggu (2/11) lalu, mengatakan Anwar sudah mendapat restu dari beberapa wilayah teritorial dari bebeberapa daerah di Indonesia Timur untuk maju.

Anwar merupakan Ketua Teritorial VIII, daerahnya mencakup seluruh wilayah Sulawesi. Pada masa kepemimpinananya Anwar berhasil membentuk KAMMI daerah di wilayah Sulawesi Barat, dan Minahasa.

"Kami optimis, Anwar bisa maju menjadi Ketua KAMMI. Kami juga sudah melakukan konsilidasi dengan teritorial XI, daerahnya mencakup beberpa daerah di antaranya Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara. Kami Optimis suara untuk Anwar menguasai wilayah Indonesia timur. Tinggal bagaimana kita mencari suara di luar Indonesia timur," ujarnya.

Sebelumnya Anwar adalah Ketua KAMMI Daerah Sulsel periode 2005-2007, saat ini masih menjabat sebagai ketua teritorial VIII yang membawahi wilayah Sulawesi. Anwar berharap mengikuti jejak seniornya, Andi Rahmat dan Taufik Amrullah, putra Sulsel yang menjadi Ketua Umum KAMMI.
Selengkapnya......

Sembilan Calon Ketua Umum Debat Kandidat

Lipsus Muktamar KAMMI VI
Makassar, CakrawalaIDE - Panitia Muktamar Nasional (Munas) VI Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) telah mengantongi sembilan nama kandidat yang dinilai layak bertarung dalam pemilihan Ketua Umum KAMMI periode 2008-2010.

Sembilan kandidat tersebut akan mengikuti debat kandidat yang digelar hari ini di LAN Antang untuk memaparkan visi dan misinya tentang KAMMI ke depan. Demikian diungkapkan Steering Committee Munas IV, Ariyanto Hendrata, Rabu (5/11), di LAN Antang, Makassar.

Menurutnya, semua kandidat tersebut mempunyai peluang besar untuk terpilih menjadi ketua umum periode 2008-2010 mendatang. "Semua kandidat berpotensi menjadi ketua, saya melihat mereka mempunyai kompetisi yang positif. Selama kompetisi itu masih dalam koridor ukhuwah Islamiah, saya rasa itu sah-sah saja," ujarnya.

Sembilan nama tersebut diusul KAMMI dari berbagai daerah. KAMMI Sulsel mengusung Anwar dan Lalu Farrul Rosi, Rahmantoha Budiarto diusulkan KAMMI Pusat, Rijalul Iman, Agung Andri, dan Syamsir Alfial, diusulkan KAMMI Pusat, sementara M Fikri Aziz diusulkan KAMMI DKI Jakarta. Muhit Harahap diusung KAMMI Semarang dan Zuliyanto diusulkan KAMMI Banten.

Lanjut Ariyanto, sembilan nama yang ada ini kemungkinan masih bisa bertambah. "Ada kemungkinan masih bisa bertambah menjadi 11 calon. Semua calon ini umumnya baik-baik dan mereka semua merupakan best of the best. Dan yang penting mereka mempunyai misi untuk pengembangan KAMMI ke depan. Ketua itu tidak mesti berasal dari daerah mana," tambahnya.

Mekanisme pemilihan ketua umum diawali dengan musyawarah oleh para anggota KAMMI. Selanjutnya kandidat yang terdaftar diferifikasi untuk mencari lima besar. Setelah itu akan dipilih siapa pemimpin KAMMI ke depan.
Selengkapnya......

BEM IAIN Antasari Tuntut BBM Turun

Banjarmasin, CakrawalaIDE - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari, Banjarmasin, menuntut pemerintah segera menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Tuntutan itu tertuang dalam pernyataan sikap saat mereka berunjukrasa ke DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) di Jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin, Rabu.

Menurut BEM IAIN Antasari yang diketuai Wahyudinor itu, penurunan tersebut perlu secepatnya dilakukan karena harga BBM yang selama ini diterapkan menyengsarakan dan tidak berpihak terhadap kondisi rakyat Indonesia.

Dalam pernyataan sikap tersebut, mereka juga meminta pemerintah lebih kreatif mencari alternatif penyelesaian terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan tidak membebankan pada rakyat seperti menaikan harga BBM.

Selain itu, pemerintah harus berpikir strategis, holistik dan integral agar pemanfaatan sumber daya alam dapat lebih optimal bagi kesejahteraan rakyat serta tidak bergantung terhadap dunia internasional.
Selengkapnya......

KPK Rancang Mata Kuliah Anti Korupsi di Unhalu

Kendari, CakrawalaIDE - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan kerjasama dengan Universitas Haluoleo (Unhalu) di Kendari, Sulawesi Tenggara, untuk meningkatkan kesadaran anti korupsi.

Salah satu isi kerjasama itu adalah penyusunan satu mata kuliah anti korupsi yang akan diajarkan di seluruh fakultas di Perguruan Tinggi Negeri terbesar di provinsi Sultra.

"Materinya akan disusun oleh KPK, selanjutnya kita akan memasukkannya dalam kurikulum pengajaran," jelas Rektor terpilih Unhalu, Prof. Dr. Usman Rianse di Kendari, Rabu.

Usman yang akan dilantik menjadi Rektor Unhalu pada hari Jumat (7/11) mendatang ini menambahkan, kerjasama itu dibicarakan saat dua anggota KPK datang berkunjung ke Unhalu dua hari yang lalu.

"Usai pelantikan, saya juga berencana menggelar lokakarya anti korupsi yang akan melibatkan para mahasiswa dan sejumlah instansi terkait. Ini dilakukan sebagai langkah awal bagi para calon pemimpin kita untuk membudayakan anti korupsi pada dirinya," jelas guru besar Fakultas Pertanian Unhalu itu.
Selengkapnya......

IPB Tanam 100 Pohon Ebony

Bogor,CakrawalaIDE - Uni Konservasi Fauna IPB, salah satu unit kegiatan mahasiswa yang memiliki kepedulian kepada lingkungan, akan menggelar program bertajuk "Kampung Konservasi", yang di antaranya berupa aksi penanaman pohon ebony di Megamendung, Bogor 16 November mendatang.

Kegiatan tersebut akan melibatkan 60 siswa SMP dari tiga SMP di daerah Megamendung. Mereka akan melakukan aksi penanaman 100 bibit pohon ebony yang kini keberadaannya mulai berkurang, kata Hanna Mery, salah satu anggota panitia Kampung Konservasi Uni Konservasi Fauna IPB, Rabu.

Aksi tersebut lahir karena kegelisahan sejumlah mahasiswa IPB yang sering melihat satu persatu pohon ebony lenyap dari tempatnya.

"Kami resah jika generasi penerus tak punya kesempatan melihat pohon ebony tumbuh subur di daerah yang tinggi. Alasan kami memilih pohon itu dikarenakan Megamendung cocok sebagai tempat tumbuh kembangnya pohon ebony," ujar Hanna di Bogor.

Dia menambahkan, menumbuhkan kecintaan menanam pohon sejak dini harus menjadi skala prioritas untuk melestarikan lingkungan yang kini kondisinya amat memprihatinkan.
Selengkapnya......

Apindo Sulsel Kecam Tawuran Mahasiswa

Makassar, CakrawalaIDE - Aksi unjuk rasa disertai tawuran oleh mahasiswa yang kembali terjadi di Makassar akhir-akhir, dikecam oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

"Pengusaha selalu menghendaki ketenangan. Bila sering terjadi demo apalagi sampai tawuran oleh oknum mahasiswa, akan membuat pencitraan Makassar kurang bagus di mata orang luar dan ini sangat kita sayangkan," kata Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sulsel, La Tunreng di Makassar, Rabu.

Apindo khawatir dampak dari aksi unjuk rasa dan tawuran antarmahasiswa tersebut akan mengganggu iklim usaha dan investasi, termasuk ketenangan berusaha.

Keadaan ini akan berdampak parah bila akhirnya investor yang akan masuk ke Makassar menunda investasinya karena merasa tidak nyaman.

"Saya kira peranan pemerintah daerah sangat besar untuk bisa menenangkan daerah, sehingga semua sektor bisa bergerak dengan baik, termasuk kita bersama-sama selalu bisa menjaga nama baik Makassar sehingga investasi dapat hidup dan bergairah," ucapnya.
Selengkapnya......

Selasa, 04 November 2008

Syahrul Buka Muktamar KAMMI

Makassar, CakrawalaIDE - Dua hari menjelang pembukaan, Panitia Muktamar Nasional (Munas) VI Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) VI, resah.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dijadwalkan hadir di acara tersebut, Kamis (6/11), hingga Selasa (4/11) belum mengkonfirmasikan kehadirannya.

Ketua Panitia Pengarah Munas, Ariyanto Hedrata, dalam jumpa pers-nya usai pembukaan Mukatamar KAMMI VI, di LAN Antang, Makassar, Selasa (4/11), mengatakan, awalnya SBY diagendakan membuka munas.

"Jika hadir tanggal 6 November Pak SBY akan membuka muktamar, semetara jika hadir tanggal 9 November, SBY akan memberikan pidato puncak muktamar," katanya.

Muktamar VI KAMMI ini dibuka oleh Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo. Dia hadir bersama Ketua KAMMI, Taufiq Amrullah. Pembukaan ini ditandai dengan pemukulan gendang oleh keduanya.

Dalam kesempatan ini Syahrul, mengatakan, muktamar KAMMI VI ini memnjadi momentum strategis untuk mengawal pemilu mendatang.
Selengkapnya......

Puluhan Mahasiswa Demo di Dispenda Sulsel

Makassar, CakrawalaIDE - Puluhan mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Pinggiran (FMP) melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar, Senin.

Aksi dari puluhan mahasiswa ini terkait adanya kecurangan tender yang diduga berada dalam kantor Dipenda Sulsel. Orasi-orasi pun terus dilakukan mahasiswa sehingga membuat arus lalu lintas di Jalan AP Pettarani terhambat.

Koordinator Lapangan (Korlap), Akbar, meminta kepada Dispenda Sulsel agar segera mengeluarkan kontrak kerja pekerjaan perbaikan dan pemeliharaan kantor UPTD Samsat Wilayah III Kabupaten Luwu.

Mahasiswa meminta kepada pihak yang berwenang agar segera mengusut tuntas dugaan keterlibatan panitia tender dalam hal pembatalan lelang pekerjaan perbaikan dan pemeliharaan kantor UPTD Samsat Wilayah III Kabupaten Luwu.
Selengkapnya......

Polisi Tahan 2 Mahasiswa Palu

Palu, CakrawalaIDE - Pihak Polsek Palu Barat menahan dua mahasiswa Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu, Sulawesi Tengah, karena terlibat tawuran yang terjadi pada akhir pekan lalu.

Dua mahasiswa berinisial Mt dan Hf itu ditahan karena diduga melakukan penganiayaan terhadap seorang mahasiswa Unisa lainnya hingga babak belur dan harus mengalami perawatan.

Kapolsek Palu Barat, AKP Bambang Widjanarko di Palu, Selasa, mengatakan kedua mahasiswa jurusan Perikanan itu ditahan karena mendapatkan aduan dari korban.

"Saat ini kedua mahasiswa itu sedang menjalani pemeriksaan seputar kasus tersebut," katanya. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian, berupa batu, kayu, bendera, dan benda lainnya.

Insiden tawuran sendiri itu berawal pada Jumat (30/10) malam, sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Saat itu, seorang mahasiswa Fakultas Pertanian berinisial Dl melintas di depan gedung Fakultas Perikanan menggunakan sepeda motor sambil memaki.

Melihat hal tersebut, seorang mahasiswa Fakultas Perikanan merasa tersinggung, dan sempat terjadi adu mulut.
Selengkapnya......

Jelang Eksekusi Amrozi, Indekos Mahasiswa Dirazia

Magelang, CakrawalaIDE - Jajaran Kepolisian Resort Magelang melakukan razia terhadap puluhan rumah pondokan dan indekos mahasiswa menjelang eksekusi tiga terpidana mati kasus Bom Bali I yakni Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra, dalam rangka Operasi Nusa Candi 2008.

"Operasi ini untuk mengantisipasi gangguan kamtibmas (Keamanan dan ketertiban masyarakat) di daerah ini, karena relatif banyak dihuni warga dari luar Magelang," kata Kepala Kepolisian Sektor Mertoyudan, AKP Joko Susanto, di Magelang, Selasa.

Aparat kepolisian memeriksa setiap rumah pondokan dan indekos di kawasan Mertoyudan, di dekat sebuah perguruan tinggi swasta di kawasan itu.

Petugas, katanya, juga melakukan pendataan terhadap pemilik rumah pondokan dan indekos di kawasan itu.

Hasil razia, katanya, tidak ditemukan sesuatu yang dinilai mencurigakan yang bisa mengganggu kamtibmas.

Umumnya, katanya, para mahasiswa asal luar Magelang yang tinggal di kawasan itu memiliki identitas diri yang jelas dan kartu tinggal bersifat sementara di tempat masing-masing.
Selengkapnya......

Senin, 03 November 2008

Mahasiwa '45 Bentrok

Materi Diklat UPPM Angkatan XX

Makassar, CakrawalaIDE - Sejumlah mahasiswa Universitas 45 terlihat perkelaian di kampus mereka, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, Senin (3/11).

Pantauan reporter CakrawalaIDE di lapangan terungkap akibat bentrokan tersebut mengakibatkan kemacetan di ruas Jl Urip Sumoharjo depan kampus 45.

Hingga berita ini diturunkan, belum dikeetahui persis penyebab perkelahian tersebut. Namun dari lokasi dilaporkan perkelahian itu menyebabkan dua orang mahasiswa mengalami luka bocor dikepala.

Dua kelompok yang bentrok itu juga belum dipastikan berasal dari mana. Namun diduga kelompok itu merupakan kelompok yang selama ini sering terlibat perkelahian di kampus tersebut.

Perkelahian itu berhenti ketika pihak kepolisian dari Polresta Makassar Timur datang dan mengamankan lokasi kejadian.(angk xx) Selengkapnya......

Rabu, 16 Juli 2008

Mahasiswa Pandeglang Kepung Kejaksaan Banten

Serang, CakrawalaIDE - Sekitar seribu warga Kabupaten Pandeglang berunjuk rasa dengan mengepung gedung Kejaksaan Tinggi Banten di Serang, Rabu, menuntut Kejati Banten segera menetapkan tersangka dugaan suap pinjaman uang Rp200 miliar.
Massa dari berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa di Pandeglang tersebut datang ke Kejaksaan Tinggi Banten dengan menggunakan puluhan kendaraan roda dua dan roda empat. Mereka langsung melakukan orasi di depan gedung Kejati Banten.

"Kenapa Kejaksaan Tinggi Banten tidak berani menyebutkan para tersangka termasuk Bupati Pandeglang A Dimyati Natakusumah. Padahal, kasus itu sudah ditingkatkan pada tahap penyidikan," kata Ketua Aliansi Masyarakat Pandeglang Menggugat (AMPM) Suhada dalam orasinya.
Selain berorasi dan membawa berbagai poster bertuliskan kecaman terhadap Bupati Pandeglang dan poster lainnya bertulisan anti korupsi, massa juga sempat membakar poster Ahmad Dimyati Natakusumah bersama isterinya di tengah jalan.
Para pengunjuk rasa menuntut pihak Kejati Banten segera menetapkan para tersangka dugaan suap pihak eksekutif Pandeglang terhadap 45 anggota legislatif/DPRD masing-masing anggota Rp30 juta. Menurut mereka, uang suap tersebut bertujuan untuk memuluskan rencana pinjaman daerah ke Bank Jabar-Banten Rp200 miliar tahun 2006 lalu.
"Tanggal 2 Februari 2006 lalu, Bupati Pandeglang meminta izin pinjaman tersebut dengan merekayasa seolah-olah telah di Paripurnakan di DPRD Pandeglang," katanya.
Aksi di tengah terik matahari tersebut berakhir setelah terjadi aksi saling dorong dengan polisi dan salah seorang pengunjuk rasa yang diduga melakukan aksi kekerasan diamankan polisi.
Namun, tidak berapa lama salah seorang pengunjuk rasa tersebut kembali dilepaskan dan massa akhirnya membubarkan diri untuk kembali melakukan aksinya di Pendopo Kabupaten Pandeglang.
Dalam jumpa pers Senin (14/7), Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten Larigau Samad mengatakan, pihaknya sudah mengantongi calon tersangka dugaan suap pinjaman daerah sebesar Rp 200 miliar di Kabupaten Pandeglang. Kasus tersebut ditingkatkan dari penyelidikan ke tahap penyidikan.
Menurut Kajati, sesuai laporan yang disampaikan oleh tim khusus pada tahap penyelidikan, sudah ada beberapa nama calon tersangka dugaan suap dalam kasus tersebut. Para tersangak terdiri dari pihak eksekutif dan legislatif pada pemerintahan Kabupaten Pandeglang.
Selengkapnya......

PMII Sumenep Protes Tata Niaga Tembakau

Sumenep, CakrawalaIDE - Sebanyak 18 aktifis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumenep, Madura, Jawa Timur, Rabu (16/7), menggelar aksi tutup mulut dan telinga di depan gedung DPRD setempat, menyuarakan ketimpangan tata niaga tembakau yang selalu merugikan kalangan petani.
Ketua PMII Sumenep, Moh Muhri Zain mengaku, sengaja menutup mulut dan telinga dengan lakban warna hitam sebagai simbol selama ini pemerintah daerah, DPRD, maupun pengusaha tembakau di Sumenep tidak mau mengayomi kepentingan petani tembakau.

Pengusaha hanya mau untung sendiri dengan cara menetapkan harga tembakau yang tidak proporsional dan akibatnya merugikan petani tembakau.
Sedangkan petani tembakau tidak punya tawar yang tinggi di hadapan pengusaha, dan akhirnya terpaksa menjual tembakaunya pada pengusaha dengan konsekuensi rugi dibandingkan tembakaunya tidak terbeli, katanya mengungkapkan.
Ia menjelaskan, sejak dua tahun lalu, pihaknya sudah berusaha mendesak pemerintah daerah maupun DPRD untuk mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada petani tembakau, agar tidak menjadi "bulan-bulanan" pengusaha tembakau.
"Tapi, pemerintah daerah maupun DPRD saja sama dan tetap tidak bisa mencarikan solusi cerdas, agar pengusaha membeli tembakau dengan harga yang menguntungkan petani. Sejak lima tahun ini, petani tembakau rugi terus dan pengusaha sebaliknya untung terus. Pemerintah daerah dan DPRD gagal dalam mengadvokasi kepentingan rakyat (petani tembakau)", katanya menegaskan.
Tahun lalu, tembakau rajangan yang selama ini dihasilkan petani Sumenep lebih banyak hanya dibeli dengan harga Rp10-12 ribu per kilogram. Bahkan, ada yang hanya Rp4 ribu per kilogram. Padahal, biaya yang dikeluarkan petani minimal Rp25 ribu per kilogramnya.
Dalam aksinya yang dijaga 25 anggota Polres Sumenep, aktifis PMII menyebarkan selebaran yang isinya permintaan pada semua komponen masyarakat untuk membela petani tembakau sampai "titik darah penghabisan", pada pengguna jalan.
Mereka juga membawa poster, antara lain bertuliskan,"Hentikan penindasan terhadap petani tembakau", "Pemerintah daerah, DPRD, kiai, pemodal, mari bersama-sama untuk memperjuangkan petani tembakau", "DPRD jangan main mata dengan pihak gudang (pengusaha tembakau)", "harga tembakau naik, rakyat senang", dan sebagainya.
Selengkapnya......

Senin, 14 Juli 2008

Gubernur NTT Adalah Mantan Aktivis GMNI

Kupang, Cakrawala - Frans Lebu Raya (48) adalah anak seorang petani terlahir di Desa Watoone, sebuah perkampungan sunyi di wilayah Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur pada 18 Mei 1960.
Anak kedua dari tujuh bersaudara pasangan Ama Paulus Ola Samon dan Ina Maria Wae Peka (alm) ini selalu menampakkan sikap rendah diri. Ia hanya melemparkan senyum sebagai sebuah pesona sikap diam yang selalu ia tunjukkan ketika masuk sekolah dasar pada usia empat tahun.

Ia tenang dalam mengolah ilmu dan merajut pelajaran sampai akhrinya menyelesaikan studinya di SDK Watoona pada 1971 ketika suami dari Lusia Adinda Dua Nurak (34) dan ayah dari Maria Yubiliani Laetare Nurak dan Karmelia Eleonoraputri Bengan Tokan ini memasuki usianya yang ke-11.
Dalam usia yang masih belia itu, Lebu Raya kecil kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP Palugodam, sebuah lembaga pendidikan swasta di Desa Sandosi yang letaknya di daerah dataran tinggi, sekitar 10 km dari kampung halamannya di Desa Watoone.
Tiap hari sekolah, ia bersama teman-temannya harus jalan kaki menapaki langkah menujuh puncak bukit untuk menimba ilmu di lembaga pendidikan tersebut sampai tamat pada 1974 ketika isterinya saat ini baru hadir di dunia ini dalam wujud seorang bayi mungil.
Tiga tahun lamanya, Lebu Raya menyeka peluh dalam menimba ilmu di SMP Palugodam yang dipimpin Thomas Sili Mado Lamabelawa yang juga adalah seorang aktivis politik dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Selepas dari Palugodam, Lebu Raya kemudian berlayar menuju Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Pulau Timor untuk melanjutkan pendidikannya.
Pilihannya jatuh ke Sekolah Menengah Olahraga Atas (SMOA) Kupang yang kini sudah ditutup oleh pemerintah setelah berubah nama menjadi Sekolah Guru Olahraga (SGO).
Setelah tamat dari SMOA pada 1977, Lebu Raya memilih pulang kampung dan menjadi seorang guru olahraga di SMP Gotong Royong Witihama sampai 1980.
Selepas dari Gotong Royong, Lebu Raya banting setir dan mendirikan sebuah lembaga pendidikan di kampung halamannya, SMP Katolik Lamaholot 1912 Witihama dan menjadi kepala sekolah di SMP tersebut.
Ketika melihat lembaga pendidikan yang didirikannya itu sudah mulai mandiri dan berjalan bagus, ia kembali merantau ke Kupang untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dan memilih Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) sebagai ladang terakhir menimba ilmu pengetahuan.
Aura kepemimpinan Lebu Raya mulai terpancar ketika menjadi Ketua Umum Senat FKIP Undana dari 1988-1990. Selepas meraih gelar sarjana di perguruan tinggi negeri satu-satunya di NTT itu, Lebu Raya mulai melebarkan sayapnya memasuki arena politik.
Pada 1991-1992, ia terpilih menjadi Ketua GMNI Cabang Kupang sambil merefleksikan ilmunya sebagai dosen di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang dan Akademi Teknik Kupang serta mendirikan Yayasan Masyarakat Sejahtera (Yasmara) untuk mendampingi masyarakat dalam melaksanakan proyek-proyek di bidang kesehatan, terutama peningkatan gizi, penanggulangan penyakit masyarakat (PMS) dan HIV/AIDS.
Keterampilannya menjadi seorang pemimpin, terasah lewat latihan keterampilan manajemen mahasiswa di Denpasar pada 1988, latihan manajemen organisasi sosial di Kupang pada 1992, latihan manajemen organisasi nirlaba di Solo, Jawa Tengah pada 1992, latihan penyadaran dan analisa jender di Mataram, NTB pada 1996 serta latihan PMS dan HIV/AIDS di Kupang pada tahun yang sama.
Ketika merasa sudah mapan untuk melangkah ke arena politik praktis, Lebu Raya memilih Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sebagai payung politiknya dan terpilih menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Kodya Kupang pada 1996.
Tatkala parpol ini mengalami perpecahan menjadi dua kubu kekuatan politik pada 1996, Lebu Raya tetap memilih bersama Megawati Soekarnoputri meski terus mendapat tekanan dan ancaman dari penguasa Orde Baru pada saat itu.
Penguasa Orde Baru memilih bersama PDI pimpinan Soerjadi dan tidak mengakui Megawati Soekarnoputri sebagai pemimpin partai tersebut sampai melahirkan insiden berdarah di Jalan Diponegoro Jakarta Pusat ketika sebuah pasukan "siluman" datang menyerang markas PDI di pagi hari yang diduduki massa pendukung dan simpatisan putri Bung Karno pada saat itu.
Insiden berdarah di bulan Juli 1996 inilah yang kemudian melahirkan sebuah partai baru bernama PDI Perjuangan pimpinan Megawati Soekarnoputri.
Kelompok pendukung Mega seakan tak tahan lagi harus bersama PDI pimpinan Soerjadi yang dikendalikan sepenuhnya oleh penguasa Orde Baru pada saat itu sehingga memilih untuk membentuk partai baru.
Partai baru pimpinan Megawati Soekarnoputri itu mulai membentuk cabang dan ranting di berbagai pelosok nusantara, termasuk di NTT. Di provinsi ini, partai ini dipimpin Anton Haba, dan Frans Lebu Raya sebagai sekretarisnya dari 1996-2000.
Selepas jadi sekretaris partai, Lebu Raya akhirnya terpilih menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan NTT periode 2000-2010.
Langkah politik putra anak petani dari Nusa Tadon--sebutan khas untuk Pulau Adonara--itu mulai mengerucut ketika memasuki Pemilu 1999. Ia terpilih menjadi anggota DPRD NTT melalui pintu PDI Perjuangan dan terpilih pula menjadi Wakil Ketua DPRD NTT dari 1999-2003.
Selepas jeda di lembaga legislatif, masuklah periode pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah NTT periode 2003-2008 karena masa jabatan Piet Alexander Tallo SH dan Drs Johannes Pake Pani sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTT periode 1998-2003 telah berakhir.
Sebagai ketua partai, Lebu Raya pun dipinang oleh Piet Alexander Tallo untuk mendampinginya sebagai wakil gubernur, karena kesulitan yang dihadapi Tallo ketika itu, tidak diakomodir menjadi calon gubernur melalui pintu Partai Golkar.
Dalam pemilihan yang berlangsung dalam dua babak di DPRD NTT itu, Piet Alexander Tallo dan Frans Lebu Raya akhirnya keluar sebagai pemenang dengan posisi 28 : 27 mengalahkan pasangan Victor Bungtilu Laiskodat-Simon Hayon yang diusung Gabungan Partai di DPRD NTT.
Selama lima tahun mendampingi Piet Alexander Tallo sebagai wakil gubernur, Lebu Raya lebih banyak menjalankan tugas sebagai gubernur dalam mengendalikan pemerintahan dan pembangunan, karena Gubernur Tallo sedang jatuh sakit hingga memasuki akhir masa jabatannya.
Ketika memasuki pentas Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) NTT periode 2008-2013, Lebu Raya mencalonkan dirinya menjadi gubernur dan meminang Ir Esthon L Foenay MSi, mantan Ketua Bappeda NTT yang kini menjabat Ketua KONI NTT sebagai wakil gubernur.
Pasangan Drs Frans Lebu Raya dan Ir Esthon L Foenay MSi yang lebih populer dengan sebutan "Fren" ini masuk ke arena Pilgub NTT melalui pintu PDI Perjuangan untuk bersaing dengan dua pasangan kandidat lainnya, Ibrahim Agustinus Medah-Paulus Moa (Tulus) yang diusung Partai Golkar dan pasangan Gaspar Parang Ehok-Yulius Bobo (Gaul) yang diusung Koalisi Abdi Flobamora.
Ketika pentas Pilgub NTT digelar pada 14 Juni 2008, pasangan Frans Lebu Raya-Esthon L Foenay (Fren) meraih suara terbanyak dengan mengumpulkan 772.030 suara atau sekitar 37,35 persen dari 2.067.228 total suara sah.
Sementara pasangan Ibrahim Agustinus Medah-Paulus Moa (Tulus) berada di posisi kedua dengan mengumpulkan 711.116 suara atau sekitar 34,40 persen dari total suara sah, sedang posisi ketiga diraih pasangan Gaspar Parang Ehok-Yulius Bobo (Gaul) dengan merebut 584.082 suara atau sekitar 28,25 persen dari total suara sah.
KPUD NTT pimpinan Ir Robinson Ratukore melalui keputusannya No.32 Tahun 2008 tanggal 22 Juni 2008 kemudian menetapkan pasangan Frans Lebu Raya-Esthon L Foenay sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur NTT terpilih periode 2008-2013.
Kedua pasangan calon yang belum beruntung dalam pesta demokrasi tersebut, menerima kemenangan pasangan Frans Lebu Raya-Esthon L Foenay dengan lapang dada dan tangan terbuka tanpa melayangkan protes sedikit pun atas hasil pilihan rakyat itu.
Beberapa hari setelah KPUD NTT menetapkan pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur NTT terpilih periode 2008-2013, Lebu Raya dan Esthon Foenay berkunjung ke kediaman pasangan "Tulus" dan "Gaul" sebagai salah satu bentuk komunikasi politik untuk membangun kebersamaan.
"Pasangan Tulus dan Gaul adalah aset yang harus diajak kerja sama untuk membangun daerah ini. Untuk membangun NTT butuh adanya kebersamaan di antara kita semua," komentar Lebu Raya usai berkunjung ke kediaman lawan politiknya itu.
Pada 16 Juni 2008 dihadapan paripurna DPRD NTT, pasangan Frans Lebu Raya dan Esthon L Foenay dilantik menjadi Gubernur-Wakil Gubernur NTT periode 2008-2013 oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto atas nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Dalam perjalanan lima tahun ke depan, pasangan "Fren" menawarkan program untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang mereka tuangkan dalam program secangkir "Anggur Merah"--Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera.
Lebu Raya mengilhami secara mendalam program "Anggur Merah" tersebut karena ia tidak mau kehilangan jejak langkah dan identitas serta harga dirinya sebagai seorang anak petani yang kini terpilih menjadi Gubernur NTT untuk periode 2008-2013.
Selengkapnya......

Front Mahasiswa Nasional Dampingi Warga Protes Perhutani Banyumas

Purwokerto, Cakrawala - Puluhan warga Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Senin (14/7), mendatangi Kantor Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur di Purwokerto, menuntut pembebasan dua rekannya yang ditahan di Polres Banyumas.
Massa yang didampingi aktivis Front Mahasiswa Nasional (FMN) Purwokerto dan Aliansi Gerakan Reformasi Agraria (AGRA) Banyumas menganggap penangkapan terhadap Dul Husein dan Suratno dalam operasi gabungan antara Perhutani dan Polres Banyumas pada Kamis (10/7) tidak memiliki dasar hukum.

"Dalam proses penangkapan tersebut, kepolisian tidak menunjukkan surat tugas dan surat perintah penangkapan yang mencantumkan identitas tersangka," kata koordinator aksi, Arif Nurohman dari AGRA Banyumas.
Selain itu, kata dia, polisi juga tidak menyebutkan alasan penangkapan dan uraian perkara tindak pidana yang disangkakan kepada mereka.
Bahkan, katanya, keluarga dua petani yang ditangkap tidak diberi surat perintah penangkapan. Padahal berdasarkan Pasal 18 KUHAP, polisi selaku penegak hukum harus bertindak berdasarkan ketentuan yang berlaku.
"Ironisnya sebelum penangkapan, polisi melakukan penggeledahan rumah warga dengan cara brutal tanpa didampingi kepala desa atau ketua RT sehingga membuat trauma warga khususnya anak-anak," katanya.
Mengenai penangkapan, menurut dia, mereka (dua petani, red.) itu hanya menjadi korban. Menurut dia, selama ini warga di sekitar hutan selalu menjadi kambing hitam dari setiap kejadian pembalakan liar. "Padahal, warga hanya mengumpulkan sisa-sisa dari bekas penebangan kayu pinus untuk keperluan pribadi bukan untuk diperjualbelikan," katanya.
Seperti diketahui, Dul Husein dan Suratno ditangkap polisi dalam operasi gabungan antara Perhutani KPH Banyumas Timur dan Polres Banyumas di hutan pinus Cilongok, Kamis (10/7).
Dalam penangkapan tersebut, polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa 98 batang pohon pinus. Hingga saat ini, kedua tersangka masih mendekam dalam sel tahanan Polres Banyumas.
Selengkapnya......

Gerakan Mahasiswa Pendidikan Nilai Bandung Mundur

Bandung, Cakrawala - Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pendidikan Nasional (Gema Pena) berpendapat mutu pendidikan di Kota Bandung belakangan ini memgalami kemerosotan dan kemunduran.
Pernyataan itu disampaikan Gema Pena dalam aksi unjukrasa di Monumen Perjuangan Rakyat Jabar di Bandung, Senin.

Aksi unjukrasa terkait pendidikan itu tidak saja berlangsung di kawasan monumen perjuangan, melainkan juga di pusat perbelanjaan Bandung Indah Plasa (BIP) dan Balai Kota Bandung.
Dalam pernyataan sikapnya yang dibacakan oleh salah seorang pengunjukrasa, Asep, menyebutkan, kemunduran pendidikan di Kota Bandung sangat memprihatinkan, karena hal itu tidak sepantansnya terjadi di Bandung sebagai kota penyangga ibukota negara.
Oleh karena itu, katanya, segala permasalahan tersebut harus segera diselesaikan secara sitematis dan mendasar dalam mewujudkan pendidikan di Kota Bandung yang lebih baik.
Dikatakannya, infrastruktur pendidikan di Kota Bandung yang mengalami kerusakan tercatat tidak kuranng dari 1.906 ruang kelas.
Realisasi rata-rata lama sekolah hanya mencapai angka 10,54 persen dari target 10,96 per tahun. Warga Kota Bandung belum terbebas dari buta huruf mencapai 0,61 persen yang berada diatas usia 10 tahun.
Warga yang tidak sekolah usia 7 hingga 12 tahun mencapai 5.387 orang, usia 13 - 15 tahun sejumlah 8.831 orang, usaia 16 - 18 tahun sebanyak 38.286 orang, usia 19 - 24 tahun sejumlah 203.752 orang.
Selain itu alokasi dana pendidikan di Kota Badung hanya Rp76,3 miliar dan program sekolah gratis yang belum tepat sasaran serta belum memberikan akses bagi warga miskin untuk bersekolah, merupakan indikator terjadinya kemunduran pendidikan di Kota Kembang ini.
Untuk itu perlu adanya kemauan politik para elit pemimpin untuk melakukan perubahan dan pembenahan secara total terhadap setiap permasalahan pendidikan.
Selengkapnya......